loading...

Popular Posts

SHARE THIS !

Sabtu, 12 Oktober 2019

Polusi Udara Sebabkan Rambut Rontok dan Picu Jadi Botakers

www.kirologi.my.id


Hari-hari ini, polusi udara menjadi bahan diskusi yang sengit oleh berbagai kaum, mulai dari intelektual hingga kaum awam. Polusi udara terjadi karena berbagai hal yang mengakibatkan hadirnya zat yang dapat membahayakan kesehatan manusia, hewan dan tumbuhan serta mengganggu estetika dan kenyamanan lingkungan. Polusi udara akibat PM10 hingga O3 yang telah kita bahas di artikel sebelumnya INDIKATOR POLUSI UDARA ternyata memiliki dampak dengan berbagai macam gangguan pada segi kesehatan manusia. Dalam sebuah studi terbaru, dinyatakan bahwa polusi udara dapat menyebabkan rambut rontok hingga mengalami kebotakan.

yuk kita simak,

Penelitian yang dilakukan salah satu perusahaan kosmetik dari Korea Selatan telah menguji efek dari debu serta polutan kendaraan bermotor terhadap sel kulit kepala manusia. Ini merupakan salah satu penelitian yang dilakukan dari berbagai macam pengaruh polusi udara terhadap kesehatan manusia.

Penelitian ini melihat pengaruh dari pertemuannya sel-sel yang terdapat pada pangkal folikel rambut yang terpapar oleh polusi udara yang dilakukan oleh Hyuk Chuk Kwok.

Dari hasil penelitian yang dilakukannya didapati paparan itu dapat mengurangi 4 protein yang berfungsi untuk meningkatkan pertumbuhan rambut serta ketahanan rambut itu sendiri. Sebagai bocoran empat protein tersebut ialah Beta-catenin, CDK2, Cyclin D1 dan Cyclin E. Salah satu protein yaitu Beta-catenin terlibat dalam pertumbuhan rambut serta retensi rambut yang berkurang secara signifikan. Semakin sering kita terpapar oleh polusi udara maka akan semakin besar pula potensi efek pada kerontokan dan kebotakan rambut. Tentu hal ini akan menjadi sorotan pada kota-kota besar degan polusi udara yang tinggi. Pun peneliti menyampaikan agar dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap hal ini untuk mengkonfirmasi efek dari polusi udara terhadap rambut diluar kegiatan laboratorium. Penelitian ini dilakukan dalam laboratorium dan penelitian lebih lanjut pernting dilakukan untuk melihat seberapa cepat efek tersebut dapat berpengaruh secara terukur akibat paparan polutan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain mengalami kebotakan, terbukti bahwa polusi udara dapat meningkatkan risiko terhadap kanker, paru-paru dan penyakit jantung. Diperkiran juga 4 juta bayi lahir secara prematur akibat polusi udara. selain itu juga dapat mengakibatkan depresi dan kesuburan yang rendah.

www.kirologi.my.id
Ilustrasi Kebotakan


Untuk menghindari kerontokan, kebotakan serta pengaruh buruk lainnya akibat paparan polusi udara maka hendaknya kita menggunakan masker maupun penutup kepala saat berada diluar ruangan. Sebaiknya hindari berlama-lama berada di luar ruangan karena hal tersebut berakibat paparan yang lebih lama oleh polusi udara.

Selain menghindari tentu kita juga wajib mencegah serta mengurangi polusi udara yang ada.Hal-hal yang dapat kita lakukan adalah :
  1. Kurangi menggunakan kendaraan yang menghasilkan polusi udara atau mengganti dengan menggunakan kendaraan yang ramah lingkungan seperti bersepeda.
  2. Menanam dan memperbanyak tanaman hijau di halaman rumah.
Semoga artikel ini bermanfaat.
Terimakasih

Kamis, 10 Oktober 2019

Memahami PM10 dan PM2.5 yang Menjadi Indikator Polusi Udara

Kondisi udara di Indonesia semakin menurun setiap tahunnya dan menjadi langganan setiap musim kemarau tiba, namun hampir setiap hari Ibu Kota Jakarta menduduki posisi 3 besar dengan polusi udara terburuk di dunia versi Airvisual.com. Begitulah mirisnya, semakin berkembangnya zaman, kemajuan teknologi, globalisasi ternyata juga seiring dengan bertambahnya polusi. Belum lagi dengan bencana-bencana yang ada seperti kebakaran hutan dan lahan tentu turut menyumbang Polusi udara di jagat raya ini. Tak dapat lagi kita hindari, tak dapat lagi kita pungkiri bahwa semua begitulah adanya.

Air Quality Index (AQI) melakukan pemantauan terhadap enam jenis polutan yaitu PM10, PM2.5, Karbon Monoksida, Asam Belerang, Nitrogen Dioksida hingga Ozon. Namun yang paling disoroti adalah PM10 dan PM2.5. Apa itu PM10 dan PM2.5 ?

www.kirologi.my.id
PM10 dan PM2.5


PM10 merupakan polutan Particulate Matter yang memiliki ukuran kurang dari atau sama dengan 10 mikron. Sedangkan PM2.5 merupakan polutan yang bertebaran di udara dengan ukuran yang lebih halus lagi yaitu kecil atau sama dengan 2.5 mikron. Ukuran tersebut tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Bagaimana tidak, kalau dibandingakan dengan rambut maka ukuran tersebut 30 kali lebih kecil dari diameter rambut manusia. Tentu dengan ukuran tersebut PM2.5 dengan mudah travelling menuju paru-paru. Dengan kehalusan ukuran tersebut, masker biasa tentu tidak dapat menghalau perjalanannya. Disarankan untuk menggunakan masker N95 yang memiliki kemampuan lebih baik dibanding masker biasa.

Paparan partikulat tersebut tentu membuat kondisi kesehatan manusia terganggu apalagi dalam konsentrasi yang melewati ambang batas tentu dengan mudah mempengaruhi kondisi kesehatan kita seperti masalah pada mata, kulit, pernapasan bahkan kematian. Bahayanya lagi dalam konsentrasi yang tidak wajar mudah sekali menyerang orang-orang yang sudah mengidap penyakit dengan masalah pernapasan seperti memperburuk fungsi paru, jantung, asma dan lain sebagainya.

Beberapa riset yang pernah dilakukan hal tersebut dapat menimbulkan terjadinya penyakit Bronkitis dan Kanker Paru dan bahkan kematian.

Partikulat tersebut dapat bersumber dari kegiatan yang bersifat alami maupun kegiatan Antoprogenik. sumber dari kegiatan alami seperti polusi udara akibat dari aktivitas gunung berapi, dekomposisi biotik, debu, sporan dan lain-lain. Sedangkan sumber dari kegiatan Antoproenik ialah polusi udara yang timbul dengan campur tangan manusia seperti transportasi, industri, persampahan, pembakaran serta rumah tangga.

Berapakah ambang batas aman paparan PM10 dan PM2.5 ?

Menurut WHO ambang batas aman paparan dalam waktu 24 jam ialah 50 mikrogram/m3 untuk PM10 sedangkan 25 mikrogram/m3 untuk PM2.5. Sementara di Indonesia masih memiliki ambang batas yang tinggi yaitu 150 mikrogram/m3 untuk PM10 dan 65 mikrogram/m3 untuk PM2.5. Hal tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara di Indonesia masih dapat dikatakan belum baik.

Rabu, 09 Oktober 2019

Kabut Asap Kembali Selimuti Jambi

Jambi, 09 Oktober 2019



KABUT ASAP yang kian melanda di beberapa provinsi di Indonesia saat musim kemarau ini. Kota Jambi yang hampir tidak memiliki lahan yang terbakar dalam kategori besar juga menjadi imbasnya. Musim kemarau ini, banyak terjadi kebakaran di beberapa provinsi yang meiliki lahan. Apakah lahan-lahan tersebut terbakar dengan sendirinya ? ataukah ini menjadi proyek pembebasan lahan bagi pemilik lahan ? karena dengan membakar tentu biaya pembebasan lahan tidak lagi perlu dkeluarkan. Sebut saja proyek aji mumpung saat kemarau. Musim kemarau menjadi kambing hitam bagi pembakar-pembakar lahan.

Kalau kita tilik, beberapa perusahaan yang ada di Indonesia adalah berasal dari negara tetangga yaitu Malaysia. Beberapa pekan terakhir terjadi pemeriksaan terhadap beberapa perusahaan tersebut. Diduga, perusahan-perusahaan tersebut dengan sengaja membakar lahan-lahan yang mereka punya sehingga seperti apa yang KemenLH (Siti Nurbaya) sampaikan beberapa perusahaan tersebut sudah disegel pada tanggal 11 September 2019. Sebagian besar saham adalah milik PT Adei asal Kuala Lumpur yang berpusat di Malaysia. 

"Saham terbesar dimiliki oleh PT Plantation" ujar Siti Nurbaya

KemenLH mengatakan bahwa pihaknya sedang mendata perusahaan-perusahaan asal Malaysia dan Singapura yang lahannya mengalami kebakaran. Semua hal tersebut perlu diidentifikasi secara mendalam.

Kondisi kemarau tahun ini hampir mirip dengan kemarau pada tahun 2015 lampau walaupun El nino tahun ini tidak aktif. September ini sudah masuk puncak musim kemarau yang berpotensi tidak adanya turun hujan dalam satu minggu kedepan.

Langkah-langkah preventif bagi kesehatan masyarakat tengah dilakukan oleh berbagai pihak dari lapisan pemerintah hingga masyarakat sendiri. Namun langkah-langkah dalam pemadaman sumber api belum efektif sehingga selalu muncul titik api yang baru, belum lagi di wilayah Sumatera banyak terdapat lahan gambut yang sulit untuk dipadamkan apabila telah terjadi kebakaran.

Jambi, telah dibasahi hujan dalam pekan ini, namun air yang berkah tersebut tidaklah mejadi solusi yang dapat menghilangkan kabut asap yang telah menyebar dimana-mana. Pasalnya, setiap malam Kota Jambi diselimuti kabut asap yang cukup pekat. Tentu hal tersebut cukup berbahaya bagi kesehatan masyarakat di Kota Jambi sendiri.

Update data realtime kualitas udara di Kota Jambi pukul 14.30 WIB dengan indikator PM 2,5 dengan nilai ISPU 130 masuk dalam kategori tidak sehat. Kualitas udara di Kota Jambi memburuk sejak Senin 7 Oktober 2019 bahkan sempat masuk dalam kategori yang berbahaya.

Dengan hujan yang berguyur turun dalam beberapa hari terakhir sedikit mengurangi kondisi kaburt asap yang menyelimuti Kota Jambi, walupun hujan tersebut masih dalam intensitas sedang. Berdasarkan data stasiun Bumi Lapan masih terdapat 39 titik hotspot kebakaran di Jambi pada daerah Sarolangun dan Muaro Jambi.

Sabtu, 05 Oktober 2019

Tentang Rani




Oleh : Radja Gendji

jelita menjejak bekas-bekas hujan
aku mengabarkan bayang berkabut di hutan tangismu
menyerupa senandung sunyi mutiara 
menenggelamkan diri di alas samudera

kau yang setia mengetuk di dada
teduhku seabadi matahari
do'aku adalah gugusan cinta gemintang 
terlontar, berpijar, merentang
menjelma ayat-ayat gemetar 
tenangnya seperti kesantunan bunga pada angkasa
bahasa cahaya
jatuh menjelma pelukan kasih untukmu

kutemukan kita seperti keikhlasan awan
menanti kerinduan udara
lalu kapas-kapas putih itu tersibak
ia bernama do'a
tercipta dari senyum dan duka penantian
tak pernah lelah tuk pulang
labuh ke sanubarimu

perpisahan bukanlah perpisahan
ia hanyalah pintu
memecah tujuh hampar lapisan langit menuju keabadian rindu tiada ujung

Bagikan Yuk !

Follow by Email